Kehilangan Dia, Hilangnya Aku

 

KEHILANGAN DIA, HILANGNYA AKU


Siapa yang sangka malam itu menjadi malam terakhir aku menatap mata sayu yang selalu tak punya semangat itu. Mata sayu yang selalu menjadi candu untukku, mata sayu yang selalu membuatku ingin menjaganya. Aku tak berharap kalimat itu muncul dari mulutmu. Kalimat yang sejak awal memang sudah aku prediksi sebenarnya, dan kini kau ucapkan dengan gamblangnya.

“ayo berhenti, aku tidak mau liat kamu semakin terluka”

Alasan klasik yang aku dengar sebagai pelindung dirimu. Aku masih tidak mengerti apakah itu memang alasan sebenarnya atau kau hanya menggunakan itu melindungi alasan yang sebenarnya.

“aku masih kuat untuk bertahan, kalau ada dukungan dari kamu”

“dukungan dari aku?”

“iya, aku hanya butuh dukungan dan keyakinan dari kamu buat aku bisa bertahan”

Betapa banyaknya argumen kita saat itu, tak mampu mengoyahkan keputusan yang telah dibuat. Sebenarnya aku telah menyiapkan perpisahan kita jauh sebelum malam itu terjadi, namun kenyataan akan perpisahan itu jauh lebih sakit dari ekspektasi yang telah aku bangun sebelumnya. Kita bahkan sempat berjanji untuk tetap menjadi teman setelahnya.

“Tapi kita tetap berteman ya?”

“Iya, kita pasti tetap berteman.”

Sungguh ironi bukan, aku mengenalmu sebagai teman dan berakhir sebagai teman.

Melihat kilas balik sebelum kita berdua menjalin hubungan bersama. Aku masih ingat dengan jelas pernyataan cinta yang aku ungkapkan untukmu. Iya AKU. Aku sadar bahwa aku yang telah menyeret diriku sendiri ke lembah itu, yang sudah aku siapkan segala resiko yang akan aku tanggung ke depannya. Aku berjanji menunggumu sampai kapan pun kau siap. Aku selalu menerimamu saat kau hanya butuh pendengar dan setelah ceritamu selesai, selesai juga komunikasi kita. Aku gila hanya dengan tidak mendengar kabar mu barang sehari. Saat itu aku sadar aku semakin “jatuh” kepadamu.

Sampai moment itu tiba, kau mendatangiku mengatakan kau siap untuk menjalin hubungan denganku. Kau tau betapa tidak percayanya aku saat itu. Selama hampir setahun aku mengejarmu dan kau mengucapkan kalimat yang masih sangat aku ingat sampai sekarang. Betapa bersyukurnya aku saat itu.”Aku berhasil” pikirku.

Aku memastikan aku melakukan yang terbaik untukmu, aku berusaha menjagamu, aku selalu mendoakanmu. Ternyata aku sejatuh itu kepadamu. Sampai tanpa sadar aku lebih memilih dirimu daripada diriku sendiri.

Namun Kata orang “cintailah lelaki setulus-tulusnya, terima segala kekurangannya, maka kau akan merasakan patah yang sepatah-patahnya”. Apakah ungkapan ini bisa aku gunakan untuk menjelaskan hubungan kita?

Sejak hari itu, aku tak pernah melihatmu lagi dan akupun semakin menutup diri. Sungguh perpisahan kita tidak pernah ada dalam rencanaku. Aku selalu minta kepada Tuhan untuk bersamamu, tetap disampingmu menjagamu, mendengarkan segala ceritamu. Bahkan semua cerita dan keluh kesahmu masih aku ingat sampai sekarang, tak pernah lupa aku mendoakan kebahagiaanmu. Entah aku berharap kamu bahagia bersamaku, atau kau bahagia bersama dengan yang lain. Sungguh aku mencintaimu, melebihi diriku sendiri.

Aku sakit. Aku sakit atas segala luka itu, aku masih berjuang untuk sembuh. Aku masih tidak baik-baik saja. Tak pernah kusangka berpisah denganmu akan sesakit dan semenderita ini. Aku sakit, tapi aku tak mau mampu menyalahkanmu, aku tak mampu memakimu. Sampai sekarang aku masih menganggap akulah dalang dan pelaku utama atas segala luka diriku.

Aku buta terhadapmu yang bahkan mampu membuatku kehilangan diriku. Pertemuan awal kita karna ketidaksengajaan, dan sekarang aku menghindari keramaian hanya karena aku takut bertemu denganmu dengan tidak sengaja. Karena setiap bertemu denganmu dan mata sayu itu aku kembali jatuh cinta padamu.

Sekarang aku sangat membenci semua hal tentang perkumpulan, keramaian, bahkan berkenalan untuk sekedar menambah relasi. Bukankah aneh menurutmu? Aku percaya saat kau bertemu denganku saat ini, kau tidak akan mengenaliku.

Aku menjauhi dunia sosial. Aku membencinya. Aku benci notifikasi pesan diponselku. Aku benci dering telfon yang berbunyi itu. Aku benci dengan orang-orang, aku benci dengan keramaian. Percayalah lebih banyak waktu yang aku habiskan berdiam diri di dalam kamar daripada bertegur sapa dengan orang sekitar.

Senyumku tak seceria dulu, bercandaku tak semenyenangkan saat itu, kantung di bawah mata semakin terlihat menghitam dan membesar, sorot mataku semakin sayu, hari-hariku semakin sunyi, berisiknya pikiranku semakin menjadi. Ingin aku berteriak di depanmu bahwa:

“AKU MENCINTAIMU, MARI HIDUP BERSAMA SELAMANYA, AKU TAK PERNAH BAIK-BAIK SAJA TANPA DIRIMU”

Kalimat singkat yang selalu inginku berikan padamu. Namun pada akhirnya semua itu hanyalah angan. Diakhir aku terus-terusan menyalahkan diri sendiri atas perpisahan kita, dengan berbagai kalimat jahat yang selalu menghantui pikiran disetiap malamnya. Selalu terbayang bagaimana aku punya kekuatan super yang bisa memutar balikan waktu, hanya untuk kembali kemasa-masa itu. Sungguh ironi aku yang begitu mencintaimu, harus terluka dengan rasa itu sendiri.

Aku berantakan, aku kehilanganmu, aku membencimu tapi aku mencintaimu.

 

Komentar